Sahabat dan Harapan

Seorang sahabatku mengatakan : Pada akhirnya nanti harapan itu akan datang menghampiri. Selalu. Setiap saat. Namun, harapan itu selalu menggantung di udara, tak pernah turun mendekati. Aku curiga, jangan-jangan harapan itu adalah harapan kosong yang tak akan pernah terealisasi, atau mungkin harapan itu kepunyaan orang lain, makanya dia tidak menghampiriku. Enggan.

Harapan itu berbeda dengan sahabatku. Percuma melihat harapan itu dari pandangan sahabatku - karena mereka berbeda. Sahabatku selalu terlihat wah dan menaruh semuanya dalam posisi istimewa - biar mudah diingat katanya. Sedangkan harapanku itu selalu diam, menatap, dan tampak biasa saja. Tidak terlihat apapun di sana. Biasa. Rata. Datar. Tidaklah mungkin harapan itu datang mengejutkan.

Haruskah aku mempercayai sahabatku ataukah harapanku sendiri? Nampaknya indah kalau mempercayai kata-kata sahabatku karena pasti harapan itu datang, cepat atau lambat, entah kapan. Sedangkan harapanku sendiri tidaklah memberikan harapan yang indah, hanya waktu tunggu yang tak berbatas dan ketidak-pastian. Harapan itu yang ku nantikan. Sahabatku yang selalu menyertaiku menunggu.

Lama-lama aku menjadi tidak percaya terhadap mereka berdua : Sahabat maupun harapanku. Tidak ada kenyataan di dalam mereka berdua. Hanya impian dan kata-kata. Namun, bukanlah harapan kalau tidak diharapkan dan pada saat harapan itu datang dan menyertaiku selalu, aku ingin sahabatku juga tetap ada di sana, berjalan berdampingan dengan harapanku.

Fr

      "Menggapai harapan tanpa harus kehilangan sahabat"

2 Responses to “Sahabat dan Harapan”

  1. Samuel Says:

    Hmmm…
    Mau ngasih pertanyaan nih buat lu. Apakah lu sudah berusaha buat menggapai harapan itu?? Ambil contoh deh.. Misalnya ada anak kecil yang pengen bisa naek sepeda roda 2 (ini termasuk harapan kan, berharap bisa naek/mengendarai sepeda) tapi dia ga pernah berusaha nyoba naek sepeda, mana mungkin dia bisa naek sepeda. Memang bukan dengan sekali coba anak kecil itu bisa naek sepeda. Pertama diawali dengan sepeda roda 4. Tapi kalo dia ga pernah mau mencopot 2 roda di samping itu, gimana dia bisa tau rasanya naek sepeda roda 2. kalo ga pernah tau naek sepeda roda 2 gimana dia bisa mengendarai-nya. Waktu pertama kali dia naek sepeda roda 2, bukan tidak mungkin jatuh… tapi kalo setelah jatuh dia kapok, dia ga pernah nyoba lagi. kalo ga pernah nyoba lagi, ya sudah timbunlah harapan itu jauh2 dalem tanah. Lain halnya kalo dia masih mau mencoba kesempatan kedua, ketiga, dst… bakal ada suatu saat anak kecil itu bisa mengendarai sepeda roda duanya. Yah kurang lebih begini sih ilustrasinya. Jadi intinya, berusahalah buat mencapai harapan itu
    Teman dan sahabat adalah orang yang akan selalu berada di dekatmu dalam keadaan susah dan senang. Teman akan selalu ada di sana saat kau membutuhkannya. OK??

    Jangan tertawakan/remehkan harapan orang.
    Orang yang tidak punya harapan adalah miskin

  2. Deph's Says:

    Kaya nya seh gw dah berusaha. Tapi mungkin blom maksimal kalieh yah. Mungkin. Males seh. Takut juga. Takutnya harapan itu ternyata bukan buat gw. Hem2. Tapi kadang menunggu juga bisa mendatangkan hasil (pepatah buat orang males). Yah, mungkin nanti, suatu saat gw akan berusaha maksimal, kalo mang dah bener2 pengen harapan itu nyampe ke gw. Amien.

Leave a Reply