Hanya Saja Mereka Tikus

Tiga ekor tikus yang memilih jalannya masing-masing. Berbeda-beda. Satu ekor memilih untuk menjadi seekor tikus yang selalu bekerja-keras sepanjang hidupnya -mengisi hari-hari hidupnya dengan bekerja, bekerja, dan bekerja- menghidupi anak-anak tikus yang memang selalu menuntut dan tak pernah mau bertanggung-jawab atas hidup-hidup mereka sendiri. Lelah. Seekor lagi memilih untuk lebih sering tidur –hibernasi katanya- sepanjang hidupnya, tidak peduli musim dingin atau panas karena begitu malasnya dia akan perjalanan hidup yang melelahkan. Tikus terakhir lebih senang menjadi penonton -yang diam tanpa komentar- bagi tikus-tikus lainnya. Tapi lama-kelamaan lelah juga menghabiskan hidup hanya untuk menjadi penonton tanpa pernah terlibat dalam hidup tikus-tikus.

Boleh saja tikus-tikus itu memilih jalan yang berbeda, menentukkan sendiri bagaimana mereka mau menjalani dan mengisi hidup mereka, karena mereka tikus. Selalu mencicit, selalu tergesa-gesa, selalu ribut, menggantikan siang menjadi malam, memberlakukan malam bagai siang. Memutar-balikkan semua. Binatang kecil, hitam, dan jorok. Bertemankan debu, malam, dan gelap.

Ketiga ekor tikus itu sama-sama tahu apa yang mereka inginkan. Mereka saling mengerti apa keinginan masing-masing tikus. Tanpa harus berbicara. Tanpa harus berkomunikasi. Bahkan mereka bertiga tidak pernah bertemu dalam kotak yang sama. Hanya saja mereka tahu ada tikus-tikus lain, yang bisa dibilang sama-sama tikus: hitam, jorok, dan bau.

Mungkinkah ketiga tikus memikirkan tujuan yang sama? Jalan takkan pernah sama karena kotak kami, para tikus-tikus, berawal dari tempat yang berbeda. Namun, mungkinkah tujuan kami sama? Tanpa pernah diberitahukan. Tanpa pernah didiskusikan. Ouh, kami tikus-tikus tahu. Jalan (tikus) ini menuju ke arah yang sama. Ke arah yang lagi-lagi menyesatkan. Ke arah yang selalu berputar-putar dan berulang-ulang. Ke arah yang lagi-lagi membuat kami mati sebagai tikus-tikus kelelahan.

Bisakah ketiga tikus itu saling mencintai dan menyayangi layaknya manusia? Tikus pertama mencintai tikus kedua, tikus kedua menyayangi tikus ketiga, kembali yang ketiga menyayangi yang pertama. Jangan berpikir tentang cinta segi tiga. Walaupun tikus-tikus ini jorok, kotor, dan bau tapi cinta mereka tidaklah sekotor itu. Mereka tidak pernah ingin menyakiti tikus-tikus lain. Hanya berpikir tentang jalan dan hidup mereka masing-masing. Selalu berbeda. Selalu sendiri. Selalu kesepian. Tanpa pernah berbicara satu sama lain. Seandainya tikus-tikus itu bisa menceritakan kisah mereka masing-masing, apa yang kira-kira terjadi yah? Apakah tikus-tikus mengenal cinta?

Saturday, January 28, 2006

1:32 AM

(Jakarta yang sedang dilanda hujan rintik-rintik)

Images

Leave a Reply