Iron(ic) Heart

Gw ga tau terbuat dari apa hati gw ini? Seperti juga seorang perempuan di balik senyumannya. Miris. Dalam kedukaan hatinya. Gw rasa untuk saat ini, gw punya perasaan yang sama dengan dia - perempuan berambut panjang terurai, yang senyumannya selalu menghiasi hari-hari gw dan yang lainnya. "Selamat pagi." Ucapnya suatu ketika di hadapan gw dan yang lainnya. Tersenyum dalam dukanya. Perempuan yang belajar untuk menjadi wanita. Untuk sekedar menyembunyikan luka bagi dirinya sendiri. Terbuat dari apa hatinya? Jelas bukan darah dan daging seperti yang gw punya, dan mungkin perempuan-perempuan lain miliki. Sepertinya juga bukan batu karena senyumnya tak pernah sekeras batu. Tapi apa mungkin hatinya bisa menahan semua rasa sakit teramat ketika lagi-lagi dia diuji untuk menjadi dewasa? Seorang perempuan yang memperjuangkan keberadaannya. Ataukah dia sudah menjadi wanita? Sepertinya belum. Karena jiwanya masih merintih, didera sakit yang amat ketika semua mata tak lagi melihatnya. Mungkin perempuan ini harus menyiapkan lebih dari satu hati. Apa bisa tubuh kecil-mungilnya memuat hati yang begitu banyak sekaligus? Kami, wanita-wanita hanya punya satu hati. Hati yang selalu merintih menahan semua, dari perasaannya sendiri sampai rasa-rasa yang ada di seluruh dunia bahkan jagad raya. Kami, wanita-wanita merasa harus berbagi hati. Tapi lagi-lagi hati itu hanya boleh dimiliki oleh dirinya sendiri. Berapa kali hatinya harus terbelah, bahkan pecah berkeping-keping hanya untuk meratapi (bukan, bahkan hanya untuk sekedar mengetahui dan merasakan) dunia yang tak lagi indah bagi perempuan. Tapi dia hanya punya satu hati. Terbuat dari apa hatinya? Gw juga penasaran. Gw berharap bisa tahu rahasianya, agar air mata tidak segera turun, seperti dia menyembunyikan perih lukanya untuk dirinya sendiri. Gw juga pengen jadi seperti dia yang tampak perkasa dengan hatinya (yang cuma satu). Gw juga cuma punya satu hati. Kenapa gw ga bisa seperti dia yah?

"Selamat pagi." Ujarnya di suatu pagi yang berawan, tentu saja senyumnya tak pernah ketinggalan. Tapi kali ini kenapa kesedihan yang disembunyikannya bisa gw lihat yah? "Loh, tumben. Elo ga pa-pa?" Sekedar basa-basi gw bertanya. Dia menggeleng dan tersenyum dalam tangisnya. "Elo yakin ga ada apa-apa?!" Gw setengah histeris nanyain dia lagi, karena selama ini gw ga pernah liat dia bersedih, apalagi sampai ada air mata di wajahnya. Dia pergi. Akhirnya gw bertanya kepada seseorang di sebelah gw "Knapa dia nangis yah? Elo tau ga dia knapa?" Gw nanya sambil nunjuk ke arah perempuan itu pergi. "Hah?! Sedih? Perasaan tuh anak tetep senyum-senyum seperti biasa." Orang di sebelah gw itu bukannya menjawab pertanyaan gw, malah bikin gw tambah bingung dan sepertinya dia juga bingung sama pertanyaan gw. "Masa elo ga liat dia nangis?! Jelas-jelas gw liat dia nangis!" Gw berusaha jelasin ke orang itu. Dan orang itu pun malah berlalu pergi - ke arah yang sama dengan si perempuan - dengan meninggalkan tatapan aneh ke arah gw yang tambah histeris. Apa ga ada kesedihan di sini? Apa ga boleh seseorang menampakan kesedihannya? Menuntut senyum selalu menghiasi bibir. "Selamat pagi." Perempuan itu datang menghampiri gw yang masih bengong dalam kehisterisan gw yang blom terjawab. "Hah?! Pa.. Pagi." Gw menjawab dengan tergagap karena gw kaget ngeliat senyum itu muncul lagi. Apa yang terjadi seh? Kali ini gw yang pergi meninggalkan dia, keluar ke pintu yang sama, yang dilalui perempuan itu, orang itu, dan sekarang gw yang keluar.

Kali ini giliran gw yang bertanya sama diri gw sendiri “Kamu mau punya berapa hati?” Kira-kira berapa hati yah yang gw butuhkan untuk menghadapi mereka: Si perempuan setengah wanita itu, si orang itu, dan yang lainnya? Sepertinya satu tidak cukup. Tapi semakin banyak hati yang gw punya, semakin mungkin hati gw terjangkit duka yang perih, yang kadang sampai menohok jantung gw sampai berenti, rasa mual pun menyertai. Satu hati, dua hati, seratus hati, seribu hati… Akhirnya yang tersisa (lagi-lagi) hanyalah hati-hati. Satu hatipun tidak bersisa karena jiwa dan tubuh gw bakal hancur terhimpit hati itu, baik hati yang masih utuh atau pecahan hati yang menusuk-tajam. Gw bertanya lagi “Hati yang terbuat dari apa yang kamu mau?” Gw pengen hati yang terbuat dari emas: Mahal, murni, dan sepertinya kuat. Atau terbuat dari berlian saja: Mahal, murni, berkilau, dan lebih kuat. Kalau besi? Ah, jangan. Nanti hati gw gampang berkarat donk. Kenapa semua bahan yang gw pilih keras-keras dan benda mati yah? Nanti keinginan gw untuk menjadi seperti perempuan berambut panjang terurai itu tidak akan pernah mungkin donk. Gwkan juga pengen kaya dia, senyumannya menggugah hari gw dan yang lainnya. Dan gw berharap senyum itu bukan palsu, bukan sekedar penghias dirinya sebagai perempuan setengah wanita. Gw mau hati gw terbuat dari hati. Di dalam hati terdapat hati. Sehingga gw bisa ngebedain apakah senyum si perempuan itu palsu atau benar-benar tulus. Sehingga gw juga masih bisa belajar tersenyum (entah kesedihan atau kebahagiaan yang menyertai). Sehingga hati gw masih bisa sembuh kalau dia harus sakit (tapi amit-amit seh).

Tapi, apa iyah gw siap merubah hati gw yang udah lama gw miliki? Hati yang selama ini menemani gw. Hati yang menyadarkan gw akan senyum si perempuan. Hati yang tahu makna senyum itu. Hati yang kadang bikin gw susah. Hati yang berdetak (itu jantung Dev). Hati yang bukan terbuat dari apa-apa yang ada. Hati yang bukan liver. Hati yang bukan jantung (jelas beda). HATI GW. -deVina-

Heart_1 Sorry, kalo cerita kali ini dikhususkan buat perempuan-perempuan atau wanita-wanita. Karena gw termasuk di antara mereka. Bukan berarti cowo-cowo ga boleh baca juga :P Silahkan ajah. Lumayanlah, sedikit mengingatkan cowo-cowo kalo cewe-cewe berpikir bukan dengan otaknya, kebanyakan kami berpikir dengan perasaan kami. Makanya jangan heran kalo kadang kami, cewe-cewe ini menyebalkan dan irritating banget.

(Cerita ini gw bikin berdasarkan satu puisi untuk Tulus, ketika usianya dua satu, sama kaya gw :D)

4 Responses to “Iron(ic) Heart”

  1. tuLuzh Says:

    Wanita, perempuan, ce emang complicated yah sampe2 memahami sesama ce jg susah..Ahh jangankan memahami sesama ce, buat ngerti perasaan atau kemauan sendiri aja kadang susah..Hmm, atau gue doank yak?? :P But that’s what makes us unique ^^

  2. Aisa Says:

    aaaaaaaa… gua bingung deph!! ceritanya bagus tapi pengertiannya agak dalem. ahahahaha.. wanita yang lo ceritakan di sana mengingatkan gua ke satu orang yang gua kenal :) (entah itu rekaan atau emank ada dari cerita lo). ^^ menjadi ce seperti itu sulit.
    ah cewek, cewek..
    penuh misteri..

    meniru si nenek di titanic:
    ‘a woman’s heart is an ocean of deep secrets’.

  3. deVina Says:

    Ada apa seh dengan kalian? Bukankah elo (Tulus en Aisa) juga cewe yah? Knapa juga kalian harus bingung. Hehehe.

    Ah, Aisa bisa ajah. Cuma tokoh rekaan kok. Kalo ada kesamaan tokoh en sifat, itu di luar tanggung-jawab penulis :D

  4. V-M-L-A Says:

    Sorry tiba2 nimbrung! Eventho I dunno you, tapi nama lo ada di list blog gue accidentally entah kenapa… mgkn top list blog kali! hehe! and I started to read it today… nice… keep it up… kenapa ngga dibikin novel aja :) is this for real?

Leave a Reply