Hati Sahabat
Sunday, June 25th, 2006
Lagi-lagi tentang hati. Tapi cerita ini bukan tentang hati saya (cieileh, pake saya, lagi serius neh..). Kali ini tentang hati seorang sahabat saya. Hati saya tak usah diceritakan karena penuh dengan abu dan jelaga. Hitam. Hati sahabat saya mungkin terbuat dari emas murni 24 karat. Debu, asap, polusi apapun tidak mampu mengotori hatinya (mungkin tanpa disadari atau tidak saya pun pernah melakukannya – berusaha mengotori hatinya). Saya berharap dia tetap bertahan dengan kemurniaan hatinya. Tidak pernah terpengaruh oleh kejamnya hati lain yang tidak berperasaan. Sebisa mungkin saya juga berusaha menjaga hati saya untuk tidak menakutinya dengan kebiasaan-kebiasaan saya yang (mungkin) mengerikan bagi dia. Terlalu sayang bagi saya merusak hati yang begitu murni. Sebisa mungkin saya membantu hatinya tumbuh menjadi hati yang lebih bersinar dan cemerlang. Tapi saya pun tak luput dari kesalahan karena hati saya -hati biasa- yang terbuat dari dari darah dan daging. Sepertinya saat ini hati sahabat saya sedang ‘sakit’. Karena dia lebih banyak diam dan mengamati. Biasanya dia lebih banyak bertindak. Tak tahan melihat burung yang terluka, menangis melihat bencana yang tak ada habisnya, terenyuh melihat gelandangan yang kelaparan. Biasanya dia akan segera bertindak untuk menolong mereka (tak terbatas manusia dan sahabat). Tapi kali ini hatinya sedang ‘malas’. Tertidur. Percuma katanya. Hatinya tetap saja sakit. Tak pernah bisa mendapatkan mereka kembali karena mereka bukan miliknya. Ouh. Jangan-jangan ini pengaruh saya juga, membuat hatinya jadi ‘malas’. Ah. Saya langsung merasa bersalah. Saya tidak ingin hati sahabat saya menjadi teracuni oleh pikiran-pikiran saya, perbuatan-perbuatan saya, tingkah-laku saya yang kadang mencerminkan keegoisan saya. Kepentingan saya. Kebutuhan saya. Dan pastinya SAYA. Ah. Jelas ini salah saya, membuat dia tersingkir, membuat dia tak lagi bertindak karena terlalu banyak saya di sana. Dari awal saya berusaha untuk menjaga kemurniaan hatinya tapi yang ada saya malah mengajarkan dia untuk mementingkan dirinya sendiri. Mengeluh karena tak ada yang membantu. Padahal setahu saya, dari dulu dia yang selalu membantu. Ah. Maafkan saya sahabatku (atau khususnya untuk hati sahabatku?). Apa yang harus saya lakukan untuk membangunkan hatinya kembali? Saya harus segera melakukan sesuatu sebelum hati sahabat saya berkarat dan berubah jadi batu yang tak berharga. Ouh. Mungkin saya harus menjauh dan pergi. Hem. Cara yang bagus. Mungkin pengaruh saya terlalu kuat sehingga menariknya jatuh ke dalam dunia yang tak lagi indah. Mungkin cerita-cerita saya menyadarkan betapa tidak dihargainya kasih di dunia. Ketika anak kecil menjadi objek kekerasan. Ketika orang dewasa saling baku-hantam. Ketika negara-negara saling perang. Bahkan, alam pun seperti ikut menyumbangkan cerita – bencana yang tak pernah habis. Saya teringat ketika saya menceritakan semua ini di hadapan nya, dia menangis tersedu-sedu dari awal sampai akhir cerita bahkan setelah lama saya selesai bercerita. Seminggu dia diam. Seminggu dia tidak makan. Seminggu dia hanya bengong dan duduk termenung. Jelas itu salah saya. Untuk apa saya ceritakan semua itu? Untuk membuatnya menjadi sama dengan saya? Manusia biasa berhati baja. Ah. Maafkan saya sahabatku. Kepekaanku terlalu dangkal untuk mengetahui hatimu yang bersahaja. Ceritaku membuatmu berpikir akan untung dan rugi. Tak ada lagi ketulusan – memberi tanpa pernah mengharap imbalan. Salah saya bercerita tentang kehidupan. Lagi-lagi keegoisan saya untuk menjadikanmu tempat bercerita tentang segala kepenatan hidup. Benar. Aku harus pergi. Menghilang dari hadapanmu sahabatku. Harapanku, kepergianku dapat mempertahankan kemurniaan hatimu tanpa pernah terkotori ceritaku. Jadi aku pergi (dalam diam karena kalau aku bercerita lagi, aku takut cerita itu tambah mengotori hatimu). Semoga hatimu tetap hidup dalam indahnya duniamu dan semoga dia bisa mempengaruhi dunia – membuatnya berubah menjadi lebih indah dan penuh sinar keemasan. Dari awal hati saya sudah penuh dengan abu dan jelaga yang mudah terbang tertiup angin dan mengotori hati lain. Tak mungkin hati saya berada dekat-dekat hati sahabat saya yang terbuat dari emas murni yang mahal harganya. Karena dunia ini lebih membutuhkan hati sahabat saya yang berharga dibanding hati saya yang busuk – yang mungkin sama dengan hati mereka-mereka yang lain.
=>Sebuah cerita untuk sahabat gw (bener-bener ada orangnya) yang belakangan ini jadi pendengar yang (sangat) baik untuk semua cerita-cerita gw, yang kadang nyebelin dan ga ngenakin dan penuh keluh-kesah tak jelas. Sorry karena gw bikin hari-hari loe jadi tidak menyenangkan.