Branded Bag

Seinget gw, gw bukan Mother Teresa. Gw ga akan dengan mudahnya membantu orang-orang di sekitar gw. Gw ga akan dengan senang hati menolong orang-orang yang terjangkit penyakit parah. Gw ga akan buang-buang waktu untuk sekedar membagikan kebahagiaan buat orang-orang ga penting dan ga makna. Mungkin alesan gw cuma sekedar uang atau harga diri. Atau mungkin males aja. Ga ada imbalan. Percuma. Buat apa gw nambahin beban hidup yang emang udah berat. Peduli apa sama semua yang terjadi di sekitar gw. Terserah mereka mau mati kelaparan, mati terjun dari lantai 10 , atau mati karena penyakit menular. Toh, gw tetep sehat-sehat en baek-baek ajah. Gw tetep masih bisa makan enak. Restoran, cafe, stand fast food selalu ada, buka 24 jam. Gw ga akan mungkin mati kelaparan. Gw ga akan mati karena penyakit-penyakit aneh. Karena gw mampu untuk beli makanan. Gw masih sehat dan gw bisa setiap saat check up ke dokter bahkan rumah sakit sekalipun seandainya gw ngerasa ga enak. Toh, obat-obatan dan alat-alat medis sekarang udah cukup canggih juga.

Jalan ramai. Lalu-lalang manusia-manusia bau. Waktu yang terhenti. Lalat yang enggan mendekat. Aku capai. Menatap manusia-manusia yang tertawa. Mereka tak tahu apa yang terjadi. Ketika waktu mengupas habis apa yang dimiliki, menyisakan kulit yang menempel tulang. Apa gunanya makanan? Apa gunanya obat? Apa gunanya uang? Ijinkan aku duduk diam di pelataran. Ijinkan aku untuk tidak berbicara. Menanti saat. Menanti waktu. Menanti hidup yang terlewatkan. Tawa sinis yang mengiris. Demi mereka aku harus bertahan, sekedar hidup dan meminta. Menjadikan aku bahan cemooh dan perusak kesempurnaan. "Dasar gembel," kata mereka.

Pertanyaan. Apakah santo atau santa hidup berdampingan dengan kegembiraan? Bersenang-senang, hura-hura? Membantu mereka yang kaya, sehat, dan mampu serta bahagia. Apakah presiden kerjaannya tinggal menikmati hasil kerja keras rakyatnya? Bersantai-santai menunggu upeti tanpa perlu berpikir dan bekerja. Apakah dokter perlu bertemu dengan orang-orang sehat? Memeriksa tanpa perlu menemukan penyakit dan tertular. Karena dokter harus sehat bukan? Karena presiden harus makmur bukan? Karena orang-orang suci itu harus senang bukan?

Jawaban. Iyah. Mereka harus berbahagia karena mereka harus membagi kebahagiaan itu dengan orang-orang kurang beruntung di sekitarnya. Mereka harus sejahtera dan makmur karena kalau bisa mereka harus berbagi juga dengan rakyatnya dan tidak perlu lagi memikirkan kesejahteraan diri sendiri. Mereka harus sehat karena mereka tidak boleh menularkan penyakit-penyakit baru bagi pasien-pasiennya. Teladan. Panutan. Ujung-pangkal. Hidup-mati.

Kenyataan. Apa dan siapa, mengapa dan karena, bagaimana dan cara, semuanya ada hubungan timbal balik. Resiko. Tanggung jawab. Apa kita harus menunda dan melarikan diri dari resiko-resiko - yang jelas-jelas sudah di depan mata? Kapan - sebentar atau lamanya tergantung waktu dan kesempatan. Kematianpun ada di depan. Menanti. Keangkuhan manusia yang membuatnya tidak terlihat. Katanya roda kehidupan selalu berputar. Katanya hidup ini adil. Ah, gw ga mau nge judge kehidupan ah. Biarin ajah. Toh, gw masih hidup :)

<Terinspirasi cerita dari blognya Sam: http://namialusleumas.blogs.friendster.com/samuels/2006/10/trip_to_nandan_.html -> kok promosi gituh yah? Dan berbagai kisah dan kejadian yang terjadi belakangan ini>

~Sedang terkesima dengan tas seharga USD 1599 saja! Lalalala~

2 Responses to “Branded Bag”

  1. Samuel Says:

    Terinspirasi…?? Ah… jadi terharu
    Yup perjalanan hidup kita masih panjangggg…….. n sekarang mau tidur dulu ah supaya besok bisa bangun lagi

  2. iRviN Says:

    duh.. keren bgt! kritis tp miris! kejam tp tidak terpejam..
    kamu ga pernah menutup matamu untuk hal-hal yg dilewatkan orang ya, two thumbs up mbak!

Leave a Reply